QUARTER LIFE CRISIS DAN LATE LIFE CRISIS

Hilya Sabrina Rahma Nur Asy Syifa’ hilya.sabrina.2301216@students.um.ac.id

Kalau di fase usia remaja akhir hingga awal dewasa kita mungkin sering mendengar istilah ‘quarter life crisis’ sebagai penyebab galaunya anak muda, maka kelompok lansia pun memiliki ‘crisis’ mereka sendiri, yaitu late-life crisis, yang sering terjadi pada individu usia dewasa akhir, biasanya di atas usia 60 tahun. Krisis ini dapat muncul karena berbagai faktor, seperti perubahan fisik yang signifikan, pensiun dari pekerjaan, kematian pasangan hidup, atau refleksi atas pencapaian dan kegagalan dalam hidup.

Dalam late life crisis, individu mungkin mengalami perasaan kebingungan, kecemasan, atau kekosongan emosional. Mereka dapat merenungkan kembali pilihan hidup yang telah mereka buat dan merasa tidak puas dengan hasilnya. Hal ini dapat menyebabkan mereka mencari makna baru dalam hidup, mencari cara untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, atau bahkan mengubah arah hidup mereka secara drastis.

Penting untuk memahami bahwa late life crisis adalah bagian alami dari proses penuaan dan pertumbuhan individu. Hal ini dapat menjadi waktu yang menantang namun juga berpotensi membawa pertumbuhan dan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan hidup secara keseluruhan. Dukungan sosial dan kesempatan untuk merenung dan mengeksplorasi pilihan baru dapat membantu individu mengatasi krisis ini dan berkembang melalui masa transisi ini dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *