Depresi Remaja pada saat Pandemi COVID-19

Rahma Izzatul Hajjah

rahma.izzatul.2301216@students.um.ac.id

Abstrak Pandemi COVID-19 berdampak besar pada kesehatan mental generasi muda dan meningkatkan risiko depresi. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko depresi pada remaja selama pandemi antara lain  pembelajaran online, kebiasaan makan, waktu yang dihabiskan di depan layar, konsumsi berita dari media, jenis kelamin, komunikasi dengan orang tua, tipe keluarga, termasuk penggunaan media sosial, isolasi sosial, dan kerentanan sosial. Membahas tentang hubungan peran keluarga dengan depresi pada remaja di masa pandemi COVID-19. Studi ini menemukan bahwa peran keluarga mempunyai dampak yang signifikan terhadap tingkat depresi remaja. Orang tua yang memberikan bimbingan, perhatian, dan komunikasi  positif kepada anak dapat membantu anak terhindar dari depresi. Penelitian ini juga menemukan bahwa tipe keluarga mempengaruhi tingkat depresi pada remaja. Remaja yang hidup dengan orang tua yang sempurna memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menderita depresi dibandingkan remaja yang hidup dengan orang tua yang tidak lengkap. 

Catatan Warna

Warna: menjelaskan tema utama

Warna: menjelaskan kondisi yang sekarang

Warna: menjelaskan ringkasan yang kita buat 

(RP1) Hubungan Peran Keluarga dengan Depresi Remaja pada saat Covid-19

Berdasarkan penelitian  Kurniati dkk. (2020), Terdapat beberapa peran orang tua dalam memberikan bimbingan  kepada anak di masa pandemi COVID-19, supaya anak tidak depresi:

  1. pertama-tama bersikap perhatian dan membantu anak  hidup bersih dan sehat. Membantu anak menyelesaikan tugas sekolahnya. Sejak diterapkannya Kebijakan Belajar dari Rumah  berdasarkan temuan Wahana Visi India (2020), 37 persen anak tidak mampu mengatur waktu belajarnya, 30 persen anak kesulitan memahami pelajaran, dan tambahan 21 persen.
  2. Beraktivitas bersama di rumah. Orang tua dapat menginisiasi berbagai aktivitas bersama selama melakukan aktivitas rumah tangga seperti membersihkan rumah, memasak, bermain, dan beribadah. Kegiatan bersama ini memberikan ruang bagi orang tua dan anak  untuk mempererat bonding.
  3. Tegas menjalin komunikasi  dengan anak. Komunikasi positif mendorong pola asuh yang positif  dalam keluarga. Hal ini diungkapkan dengan mendengarkan baik-baik dan fokus pada pembicaraan(Sofyan, 2019).

Peran pengawasan  orang tua berkaitan dengan pola perilaku hidup bersih dan sehat dalam pola hidup dan pelaksanaan kegiatan belajar anak. Peran pengawasan menunjukkan bahwa  orang tua dalam sebuah keluarga merupakan subsistem yang berkaitan dengan interaksi orang tua dan anak serta berperan dalam melindungi, mendidik, dan mendisiplinkan anak (Pratiwi, Mukaromah, & Her Diningsih, 2018).

(RP2) Pengaruh Bentuk  Keluarga terhadap Tingkat Depresi

Pada analisis bivariat dengan  uji chi-square diperoleh nilai OR sebesar 2,709, p-value = 0,019 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh tipe keluarga terhadap tingkat depresi. Penelitian ini konsisten dengan penelitian Daryanani dkk. (2017) menemukan bahwa pengaturan keluarga yang tidak sempurna, seperti perceraian, mempengaruhi tingkat depresi. Faktor-faktor yang terjadi ketika remaja tinggal bersama ibunya mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap proses perenungan remaja. Dan para remaja merasa kecewa karena ayah mereka tidak dilibatkan dalam semua keputusan. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Bohman et al. (2017), remaja yang  orang tuanya berpisah melaporkan  pendapatan keluarga yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan peserta yang orang tuanya tidak berpisah. Selain itu, perpisahan orang tua dapat menyebabkan perubahan tempat tinggal, dalam hal ini anak-anak dan remaja mungkin harus bersekolah dan mencari teman baru dalam situasi yang penuh tekanan. Dalam penelitian Berg (2016), remaja yang memiliki orang tua yang tidak lengkap seperti orang tua yang sudah meninggal dan tidak siap kehilangan ayah atau ibunya  karena kecelakaan atau bencana alam, memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita depresi dibandingkan remaja yang lebih tua. Kematian orang tua, misalnya orang tua yang sakit kronis. 

Hasil penelitian ini sejalan dengan Suprihatin (2013) yang mengemukakan bahwa keadaan sedih dan berduka yang terjadi ketika seseorang kehilangan tidak hanya orang yang dicintai tetapi juga seorang kenalan berdampak pada kehidupannya selanjutnya. Apalagi saat kehilangan orang tua, ada kalanya Anda berduka atas kehilangan tersebut dan merasakan kesedihan yang mendalam. Bagi remaja, kematian orang tua  merupakan suatu peristiwa yang berbeda dari peristiwa lainnya karena mempunyai dampak yang sangat besar terhadap kehidupan remaja tersebut di masa depan.

(RP3) Dampak Covid-19 Pada Depresi

Salah satu dampak yang mengkhawatirkan dari pandemi ini adalah kesehatan mental. Hal ini tidak hanya berdampak pada orang dewasa, namun juga generasi muda secara tidak langsung. Kesehatan mental mengacu pada kesejahteraan kognitif, perilaku, dan  emosional. Berdasarkan laporan penelitian selama dua tahun terakhir (masa pandemi), kami menemukan bahwa berbagai  faktor mempengaruhi kesehatan mental remaja selama pandemi.

(RP4) Faktor Depresi pada saat Pandemi Covid-19

Berbagai  faktor mempengaruhi kesehatan mental remaja selama pandemi  Faktor-faktor tersebut antara lain proses pembelajaran online, kebiasaan makan, waktu yang dihabiskan untuk melihat layar, konsumsi berita dari media, jenis kelamin, komunikasi dengan orang tua, tipe keluarga, penggunaan media sosial, isolasi sosial, individu termasuk keluarga, kerentanan sosial. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan mental remaja. Upaya yang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan mental, seperti meningkatkan komunikasi antara orang tua dan anak serta memanfaatkan media sosial dengan baik.

(RP5) Pemanfaatan  Media Digital dalam Pengelolaan Kesehatan Mental Remaja di Era Pandemi

Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan media digital merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan manajemen kesehatan mental remaja. Misalnya, penelitian  menunjukkan bahwa penggunaan media digital dapat membantu remaja mengatasi stres dan depresi, serta meningkatkan kesadaran  kesehatan mental. Kesimpulannya, pemanfaatan media digital dalam pengelolaan kesehatan mental generasi muda di era pandemi merupakan isu yang sangat relevan dan penting. Penggunaan media digital yang seimbang dan bijaksana serta kesadaran akan penggunaan media sosial dapat membantu  menjaga kesehatan mental remaja.

(RP6) Fenomena-Fenomena Insecure pada Remaja di Era Pandemic Covid 19 

Banyak fenomena tidak pasti yang terjadi di kalangan remaja selama pandemi COVID-19, termasuk gangguan psikososial  seperti kecemasan, depresi,  dan trauma. Rephrase Selain kemungkinan mengakses dokter spesialis, peran keluarga juga berkontribusi terhadap permasalahan seperti: Hal ini dikarenakan fenomena terjadinya permasalahan yang tidak menentu dapat menimbulkan gangguan psikologis jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat waktu. Dukungan dan motivasi keluarga sangat penting untuk psikoterapi remaja yang menderita gangguan jiwa. Mekanisme koping individu dan dukungan dari orang-orang tercinta bagi mereka yang mengalami ketidakpastian dapat membantu mereka merasa rileks dan aman saat mengkomunikasikan apa yang mereka alami.

(RP7) Hubungan Falsafah Jawa Nrimo  Ing Pandum Dalam Mengatasi Depresi

Budaya Jawa  terkenal penuh dengan falsafah hidup yang mulia dan  pedoman dalam mencapai kebahagiaan hidup. Salah satu dari  filosofi  tersebut adalah “Narimo ing Pandum”. Narimo dalam pandam adalah sikap menerima  sepenuhnya apa yang ditawarkan kehidupan. Narimo sendiri diartikan sebagai  ketenangan dalam penyelesaian masalah, memperhitungkan reaksi emosional dan kognitif dalam penyelesaian masalah, serta kemampuan introspeksi  saat menghadapi masalah atau tantangan dari Tuhan Yang Maha Esa. Filosofi Narimo ing Pandum mencakup tiga konsep psikologis: penerimaan, kesabaran, dan  syukur.

Daftar Pustaka 

Lempang, G. F., Walenta, W., Rahma, K. A., Retalista, N., Maluegha, F. J., & Utomo, F. I. P. (2021). Depresi Menghadapi Pandemi Covid-19 pada Masyarakat Perkotaan (Studi Literatur). Jurnal Pamator: Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo,14(1), 66-71.

Andriani, J. A., Romadhon, Y. A., Herawati, E., &Candrasari, A. (2021, May). Pengaruh Bentuk Keluarga dan Tingkat Pendidikan Orang Tua Terhadap Tingkat Depresi Remaja di Era Pandemi Covid-19. In Prosiding University Research Colloquium (pp. 222-227).

 Melina, S. A., & Herbawani, C. K. (2022).Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Remaja Selama PandemiCovid-19: Tinjauan Literatur. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 21(4),286-291.

 Putri, T. H., & Azalia, D. H. (2022). Faktor yang mempengaruhi stres pada remaja selama pandemi Covid-19. Jurnal Keperawatan Jiwa, 10(2), 285.

Nova Mardiana, I. Y., & Widianti, E. Fenomena Insecure Pada Remaja Di Era Pandemic Covid-19: Studi Literature. Jurnal Ilmu Kesehatan UMC, 10.

Nurrohmah, A. P. HUBUNGAN FALSAFAH JAWA NARIMO ING PANDUM DALAM MENGATASI DEPRESI.

Janitra, P. A., Prihandini, P., & Aristi, N. (2021). Pemanfaatan media digital dalam pengelolaan kesehatan mental remaja di era pandemi. Buletin Udayana Mengabdi, 20(1), 18-23.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *